Di Tengah Kabut Asap Karhutla, Suci Puji Ismeralda Tetap Menjaga Aktivitas Kilang Pertamina Balikpapan

Teks foto : PEJUANG ENERGI : Suci Puji Ismeralda, Supervisor Construction Kilang Pertamina Balikpapan, menjadi potret Kartini modern di dunia industri energi. Di tengah kabut asap akibat karhutla, ia tetap menunjukkan semangat, kepedulian, dan keteguhan dalam menjalankan tanggung jawabnya. Baginya, menjaga aktivitas konstruksi bukan sekadar memastikan pekerjaan berjalan, tetapi juga memperhatikan keselamatan dan kesehatan para pekerja. 

BALIKPAPAN — Udara berasap tak membuat lingkungan kerja di kawasan kilang Pertamina Balikpapan kehilangan aktivitasnya. Para pekerja konstruksi tetap menjalankan tugas, termasuk pekerjaan yang mengharuskan mereka naik ke ketinggian. Namun, ada hal yang mulai terasa berbeda: napas menjadi lebih berat ketika mereka harus menaiki tangga menuju lokasi kerja.

 

Kondisi itu dirasakan Suci Puji Ismeralda, Supervisor Construction yang sehari-hari akrab di sapa Rara. Ia mengawasi pekerjaan konstruksi di kawasan kilang. Kabut asap kiriman dari kebakaran hutan di Kalimantan menjadi tantangan tambahan bagi pekerja lapangan. Meski jarak pandang masih jelas, udara yang dihirup terasa kurang nyaman, terutama ketika tubuh harus bekerja lebih keras.

 

 

 

 

 

 

“Biasanya mungkin sesaknya biasa kalau naik tangga. Tapi karena ditambah asap yang seperti ini, jadi terasa banget,” kata Rara saat diwawancarai Jumat (22/102/26).

 

Bagi pekerja yang harus berpindah dari satu titik ke titik lain melalui tangga, perubahan itu cukup terasa. Aktivitas yang biasanya dilakukan tanpa banyak keluhan kini membutuhkan perhatian lebih terhadap kondisi tubuh. Apalagi, pekerjaan konstruksi tidak selalu berada di permukaan tanah. Ada tugas yang mengharuskan pekerja berada di ketinggian dengan tetap menjaga konsentrasi dan keseimbangan.

 

Meski begitu, menurut pengamatan Suci, asap belum mengganggu jarak pandang di area tempatnya bekerja. Lingkungan sekitar masih terlihat jelas. Pekerja tetap dapat melihat jalur menuju lokasi pekerjaan dan kondisi di sekelilingnya.

 

“Kalau jarak pandang itu enggak, karena masih jelas. Cuma terasa di pernapasan saja,” ujarnya.

 

Perbedaan ini menjadi catatan penting di tengah kondisi udara berasap. Gangguan yang dirasakan pekerja tidak selalu terlihat dari luar. Saat pandangan masih normal, ketidaknyamanan justru bisa muncul ketika mereka menghirup udara dan melakukan aktivitas fisik.

 

Bagi Rara, kondisi seperti itu tidak bisa diabaikan. Pekerjaan memang harus berjalan, tetapi kesehatan orang-orang yang mengerjakannya tetap perlu diperhatikan. Terlebih, bekerja di ketinggian menuntut kondisi fisik yang baik. Rasa sesak atau keluhan lain perlu disampaikan agar dapat ditindaklanjuti.

 

Karena itu, pemantauan kondisi pekerja dilakukan sejak awal hari kerja. Salah satunya melalui pemeriksaan di DCU atau Daily Check Up. Dalam pemeriksaan tersebut, pekerja ditanya mengenai kondisi tubuh mereka, termasuk apakah ada keluhan pada pernapasan.

 

Kebiasaan bertanya dan memeriksa kondisi pekerja menjadi salah satu cara untuk mengetahui masalah sejak awal. Keluhan yang mungkin dianggap ringan oleh pekerja pun bisa diketahui sebelum mereka melanjutkan aktivitas.

 

Rara mengatakan perhatian itu diberikan kepada pekerja kontraktor maupun subkontraktor. Dalam pekerjaan konstruksi, banyak orang terlibat dan memiliki tugas masing-masing. Karena itu, komunikasi menjadi bagian penting agar kondisi kesehatan pekerja tidak luput dari perhatian.

 

 

 

 

 

 

Selain pemeriksaan, penggunaan masker juga dilakukan sebagai upaya mengurangi paparan asap. Para pekerja turut menyediakan masker untuk membantu rekan-rekan mereka di lapangan.

 

Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga pekerja tetap terlindungi selama beraktivitas. Namun, penggunaan masker tetap perlu disertai pemantauan kondisi kesehatan dan penyesuaian pekerjaan apabila muncul keluhan. Apalagi, paparan asap dapat menimbulkan dampak yang berbeda pada setiap orang.

 

Rara tidak menampik bahwa kondisi udara seperti ini membuat aktivitas tertentu terasa lebih berat. Pengalaman menaiki tangga menjadi contoh paling sederhana. Ketika dilakukan dalam kondisi biasa, aktivitas tersebut mungkin tidak menimbulkan masalah berarti. Namun, saat udara bercampur asap, rasa sesak menjadi lebih terasa.

 

Di sisi lain, kondisi jarak pandang yang masih jelas membuat pekerja tetap dapat mengamati lingkungan kerja. Asap belum dirasakan mengganggu penglihatan secara berarti. Meski demikian, kejernihan pandangan tidak serta-merta menjadi penanda bahwa udara aman untuk dihirup. Itulah sebabnya keluhan pernapasan tetap perlu diperhatikan.

 

Bagi Rara, menjaga aktivitas konstruksi bukan hanya soal memastikan pekerjaan selesai sesuai rencana. Ada tanggung jawab untuk memperhatikan kondisi orang-orang yang menjalankannya. Komunikasi antara pengawas dan pekerja menjadi penting, terutama ketika lingkungan kerja mengalami perubahan.

 

Di kawasan industri seperti kilang Pertamina Balikpapan, pekerjaan konstruksi menjadi salah satu bagian yang mendukung keberlangsungan fasilitas. Di balik aktivitas tersebut, para pekerja harus berhadapan dengan kondisi lapangan yang tidak selalu sama setiap hari. Perubahan cuaca dan kualitas udara dapat menambah tantangan di tengah tuntutan pekerjaan. Kalau kondisi normal udara di kilang sangat baik.

 

Dalam situasi kabut asap, kewaspadaan tidak cukup hanya mengandalkan apa yang terlihat. Pekerja perlu memperhatikan kondisi tubuh masing-masing dan menyampaikan keluhan ketika merasa tidak nyaman. Pengawasan kesehatan, penggunaan alat pelindung, dan komunikasi yang terbuka menjadi bagian dari upaya mengurangi risiko.

 

Suci menjalankan perannya dengan memperhatikan kondisi pekerja sekaligus kebutuhan pekerjaan di lapangan. Baginya, menanyakan apakah pekerja mengalami gangguan pernapasan merupakan langkah sederhana yang penting dilakukan berulang. Dari pertanyaan itu, pengawas dapat memperoleh gambaran tentang kondisi pekerja sebelum mereka melanjutkan tugas.

 

Asap yang datang dari kebakaran hutan di Kalimantan memang menjadi tantangan tersendiri. Namun, kondisi tersebut tidak hanya dapat dilihat dari seberapa jauh pandangan mata terganggu. “Pengalaman Rara menunjukkan bahwa ketika jarak pandang masih jelas, dampak asap tetap bisa dirasakan melalui pernapasan,” ungkapnya.

 

Di tengah keadaan itu, pekerjaan konstruksi tetap membutuhkan perhatian terhadap keselamatan. Semangat menjaga energi kilang tidak semata-mata berarti mempertahankan aktivitas agar terus berjalan. Ada pula upaya memastikan para pekerja dapat menjalankan tugas dengan memperhatikan kesehatan dan keselamatan mereka.

 

Bagi Rara dan rekan-rekannya, hal itu dimulai dari langkah-langkah sederhana yakni memeriksa kondisi sebelum bekerja, menggunakan masker, serta tidak mengabaikan keluhan yang muncul. Sebab, di balik kelancaran pekerjaan di kawasan kilang, ada pekerja yang setiap hari harus memastikan tugasnya selesai dengan tetap menjaga keselamatan diri dan orang-orang di sekitarnya.(Oky)

Related posts