Di Balik Layar Integrasi Kilang Pertamina Balikpapan

Teks Foto : M. Rachmadhana, Engineer I Planning & Scheduling PT Kilang Pertamina Balikpapan (KPB), berperan dalam pengendalian jadwal dan koordinasi pekerjaan saat integrasi fasilitas baru proyek RDMP dengan fasilitas eksisting RU V Balikpapan pada kegiatan Plant Stop Revamp (PSR) 2024.

 

 

 

 

 

BALIKPAPAN — Pagi belum beranjak terlalu jauh ketika pekerjaan pengendalian proyek dimulai. Jadwal diperiksa, perkembangan lapangan dipantau, dan informasi dari berbagai pihak dikumpulkan. Bagi tim perencanaan dan penjadwalan, pekerjaan belum selesai ketika satu aktivitas dinyatakan rampung. Mereka masih harus memastikan pekerjaan berikutnya dapat berjalan sesuai rencana.

 

Situasi seperti itu menjadi bagikan pekerjaan M. Rachmadhana, Engineer I Planning & Scheduling di PT Kilang Pertamina Balikpapan (KPB), ketika terlibat dalam kegiatan Plant Stop Revamp (PSR) pada 2024. Kegiatan tersebut berkaitan dengan integrasi fasilitas baru proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) dengan fasilitas eksisting RU V Balikpapan.

 

Integrasi dua fasilitas itu bukan sekadar urusan menyambungkan instalasi. Di dalamnya terdapat berbagai pekerjaan yang harus diselaraskan, jadwal yang saling berkaitan, serta tim dengan lingkup tanggung jawab masing-masing. Kemajuan satu pekerjaan dapat berhubungan dengan kesiapan pekerjaan lain. Karena itu, pengendalian jadwal menjadi salah satu unsur penting dalam menjaga koordinasi.

 

PSR, yang juga dikenal sebagai Turn Around (TA), merupakan penghentian operasi kilang sementara secara terencana. Periode tersebut dimanfaatkan untuk melakukan perawatan berkala, inspeksi, serta pekerjaan integrasi atau pengembangan fasilitas yang sulit dilaksanakan ketika kilang beroperasi normal.

 

Waktu pelaksanaan yang telah direncanakan membuat setiap pekerjaan membutuhkan persiapan. Tim harus memahami lingkup tugas, mengikuti perkembangan di lapangan, dan menyampaikan kendala kepada pihak yang berkepentingan. Dalam pekerjaan integrasi, kebutuhan koordinasi semakin besar karena aktivitas proyek pengembangan perlu diselaraskan dengan fasilitas yang sudah ada.

 

“Berbagai tim harus menyelesaikan lingkup tanggung jawab masing-masing, sementara perkembangan di lapangan perlu terus dipantau,” kata Rachmadhana saat di wawancarai pada Jumat (22/10/2026).

 

Bagi Dhana, begitu ia akrab disapa, tugas perencanaan dan penjadwalan tidak berhenti pada penyusunan tanggal mulai dan selesai. Ia ikut memantau jadwal pekerjaan yang melibatkan joint operation (JO), berkoordinasi mengenai lingkup pekerjaan, serta mendukung pengelolaan sejumlah paket kontrak.

 

Dari posisi tersebut, ia perlu mengikuti perkembangan pekerjaan dan melihat hubungannya dengan aktivitas lain. Ketika muncul hambatan atau perubahan, informasi harus segera diteruskan kepada pihak terkait agar dampaknya terhadap jadwal dapat dievaluasi.

 

Pekerjaan itu menuntut ketelitian sekaligus komunikasi. Jadwal yang tersusun rapi tidak akan cukup jika perkembangan di lapangan tidak dilaporkan dengan baik. Sebaliknya, informasi mengenai kendala akan lebih berguna apabila dapat ditempatkan dalam konteks rencana kerja dan keterkaitan antaraktivitas.

 

Memantau pekerjaan hingga malam. Intensitas pekerjaan meningkat selama periode PSR. Rachmadhana mengingat dirinya kerap datang pada pagi hari dan baru meninggalkan lokasi sekitar pukul 22.00 atau 23.00. Pada periode tertentu, pekerjaan berlangsung hampir setiap hari.

 

“Jam kerja yang panjang berkaitan dengan kebutuhan memantau perkembangan pekerjaan dan mempersiapkan aktivitas berikutnya,” ujarnya.

 

Tim harus mengetahui apa yang telah selesai, pekerjaan mana yang masih berjalan, serta kendala apa yang berpotensi memengaruhi rencana hari berikutnya.

 

Pengawasan lapangan dilakukan dengan membagi tim ke dalam giliran pagi dan malam. Tim malam melanjutkan pemantauan setelah Magrib hingga pagi. Pembagian ini membantu memastikan perkembangan pekerjaan tetap terpantau sesuai kebutuhan kegiatan.

 

Namun, pemantauan bergantian juga membawa tantangan tersendiri. Informasi yang diperoleh tim pagi perlu diteruskan kepada tim malam, begitu pula sebaliknya. Pekerjaan yang belum selesai, kendala di lapangan, dan perubahan rencana harus disampaikan dengan jelas agar tidak terjadi kesenjangan informasi.

 

“Dalam proyek yang melibatkan banyak pihak, komunikasi menjadi bagian dari pengendalian. Ketika satu tim tidak mengetahui perkembangan yang dialami tim lain, koordinasi dapat terganggu,” jelasnya. Karena itu, pencatatan dan serah terima pekerjaan menjadi penting untuk menjaga kesinambungan pemantauan.

 

Rachmadhana juga merasakan bagaimana intensitas pekerjaan mempererat hubungan antar rekan. Mereka lebih sering berinteraksi, memahami pola kerja satu sama lain, dan saling mendukung ketika menghadapi jadwal yang padat.

 

Meski begitu, pekerjaan yang berlangsung hingga malam tetap membutuhkan pengaturan tenaga dan pembagian tugas yang memadai. Kesinambungan pengawasan tidak hanya bergantung pada panjangnya jam kerja, tetapi juga pada kejelasan tanggung jawab, kualitas komunikasi, dan pengelolaan pergantian shift.

 

Berawal dari tenaga alih daya. Keterlibatan Dhana dalam proyek RDMP merupakan bagian dari perjalanan karier yang berkembang secara bertahap.

 

Ia bergabung dengan Pertamina Group pada 2017 sebagai tenaga alih daya atau TAD di fungsi turnaround RU V Balikpapan.

 

Ketika itu, ia bekerja sebagai assistant planner. Tugasnya mencakup dukungan perencanaan, pencarian informasi harga, dan penyusunan paket kontrak. Pekerjaan tersebut menjadi pintu masuk untuk mengenal proses perencanaan serta kebutuhan koordinasi di lingkungan kilang.

 

Ia kemudian mengikuti pelatihan Primavera, perangkat lunak yang digunakan untuk menyusun dan memantau jadwal proyek. Setelah memperoleh pembekalan tersebut, ia mulai menjalankan tugas sebagai scheduler.

 

Perubahan tanggung jawab itu memperluas pemahamannya terhadap pekerjaan perencanaan. Jadwal tidak sekadar berisi daftar aktivitas dan tanggal pelaksanaan. Di dalamnya terdapat urutan pekerjaan, hubungan antarkegiatan, dan kebutuhan untuk memperbarui informasi berdasarkan kondisi aktual.

 

“Pada 2022, saya bergabung dengan KPB dalam proyek RDMP. Lingkup pekerjaannya berkembang ke pengendalian proyek, terutama perencanaan dan penjadwalan,” tutur Dhana.

 

Ia memantau jadwal, berkoordinasi dengan pihak terkait, serta membantu pengelolaan sejumlah paket kontrak.

 

Peralihan dari pekerjaan turnaround menuju proyek RDMP mempertemukannya dengan kompleksitas yang berbeda. Dalam proyek berskala besar, suatu perubahan dapat memengaruhi aktivitas lain yang berkaitan. Pengendalian jadwal karena itu membutuhkan pemahaman terhadap keseluruhan rangkaian pekerjaan, bukan hanya satu bagian.

 

Pengalaman tersebut menjadi bekal ketika ia terlibat dalam PSR yang berkaitan dengan integrasi fasilitas baru dan fasilitas eksisting. “Perencanaan, pemantauan, dan komunikasi harus berjalan bersama agar setiap pihak memiliki gambaran mengenai perkembangan pekerjaan,” tegasnya.

 

Mengelola perubahan dan risiko. Untuk memperkuat kompetensinya, Rachmadhana mengikuti sejumlah pelatihan yang disediakan KPB, termasuk change management dan schedule risk analysis.

 

Pengelolaan perubahan diperlukan ketika terdapat penyesuaian lingkup atau rencana kerja. Sementara itu, analisis risiko jadwal membantu tim menilai kemungkinan hambatan dan dampaknya terhadap target waktu. Kedua kemampuan tersebut relevan bagi proyek yang memiliki banyak aktivitas saling terkait.

 

Dalam pekerjaan integrasi, perubahan tidak dapat dilihat secara terpisah. Penyesuaian pada satu lingkup perlu ditelaah untuk mengetahui apakah hal itu memengaruhi urutan pekerjaan, kebutuhan koordinasi, atau jadwal aktivitas lain. Informasi tersebut kemudian menjadi bahan bagi pihak terkait untuk mengevaluasi langkah berikutnya.

 

Karena itu, fungsi perencanaan dan penjadwalan tidak hanya bekerja dengan rencana awal. “Tim juga perlu mengikuti perkembangan pelaksanaan, memperbarui informasi, dan membantu mengidentifikasi risiko yang mungkin muncul,” teragnya.

 

Keterampilan ini tidak menggantikan keputusan teknis dari pihak yang bertanggung jawab atas pekerjaan di lapangan. Namun, informasi jadwal dan perkembangan pekerjaan dapat membantu berbagai pihak memahami kondisi proyek secara lebih menyeluruh.

 

Peluang bagi tenaga kerja lokal yakni putra daerah sangat terbuka. Pengembangan kilang Pertamina juga memperlihatkan beragam profesi yang dibutuhkan dalam industri energi. Selain operator dan teknisi, proyek besar membutuhkan tenaga perencanaan, penjadwalan, pengendalian proyek, pengelolaan kontrak, pengadaan, serta keselamatan kerja.

 

Bagi warga Balikpapan yang ingin meniti karier di subholding Pertamina, atau anak perusahaan tersebut, tentu di Pertamina banyak peluang, tinggal apakah sebagai pelamar sesuai spesifikasi yang dicari oleh perusahaan misal Patra Niaga, Kilang Pertamina Balikpapan, dan lainnya.

 

Namun, peluang kerja tidak otomatis terbuka hanya karena seseorang tinggal di sekitar kawasan industri. Kebutuhan perusahaan berbeda-beda sesuai posisi, kualifikasi, pengalaman, dan proses seleksi. Calon pelamar perlu mempelajari persyaratan pekerjaan serta memantau informasi melalui kanal rekrutmen resmi Pertamina, atau cek di aplikasi Mypertamina disana ada informasi rekrutmen.

 

Perjalanan Dhana memperlihatkan bahwa pengalaman dapat berkembang dari tugas pendukung perencanaan menuju tanggung jawab yang lebih luas. Ia memulai karier di fungsi Tenaga Alih Daya mempelajari perangkat penjadwalan, lalu terlibat dalam pengendalian proyek Strategis Nasional yakni RDMP di Kilang Pertamina Balikpapan.

 

Di balik integrasi fasilitas baru dan kilang eksisting, pekerjaan seperti yang dijalankannya membantu menjaga keterhubungan informasi antar tim. Jadwal menjadi alat untuk memantau kemajuan, sementara koordinasi membantu memastikan setiap pihak memahami perkembangan dan tanggung jawabnya.

 

Integrasi kilang pada akhirnya bukan hanya persoalan fasilitas dan pekerjaan teknis. Proses tersebut juga bergantung pada kesiapan orang-orang yang mengerjakannya, menyusun rencana, memantau pelaksanaan, mengenali risiko, dan menjaga komunikasi ketika berbagai aktivitas harus bergerak dalam satu rangkaian.

 

Di sanalah pekerjaan perencanaan dan penjadwalan mengambil peran. Bukan sebagai pekerjaan yang selalu terlihat di garis depan, melainkan sebagai bagian dari upaya menyelaraskan banyak pekerjaan agar dapat dikendalikan secara terukur dan tepat waktu.(Oky)

Related posts