BALIKPAPAN – Siapa sangka, nongkrong santai di coffee shop bisa berujung keringat dan pegal sekujur badan. Itulah yang dialami Oky Mayhendra, warga Balikpapan yang kini “terjerumus” ke dunia padel setelah tiga bulan rutin bermain.
Awalnya, Oky hanya hobi lari dan futsal. Namun semua berubah saat duduk santai di Titik Koma bersama teman-teman. “Waktu itu saya pikir padel ini cuma olahraga FOMO, tren baru yang lewat begitu saja,” ujarnya sambil tertawa.
Nyatanya, sekali coba langsung ketagihan. Meski awalnya agak “kaget” dengan harga raket jutaan dan sewa lapangan Rp200 ribu sampai Rp350 ribu per jam untuk 4 orang—Oky punya trik biar tetap hemat. “Main dua jam rame-rame 8 orang, gantian. Jadi murah tapi tetap capek,” katanya.
Menurut Oky, padel bukan cuma soal pukulan keras. “Ini bukan futsal yang tinggal lari dan tendang. Padel itu butuh kontrol, bukan cuma power. Kadang kita harus sabar di belakang, tapi juga berani maju buat smash,” jelasnya.
Ia juga berbagi tips penting untuk pemula. “Jangan lupa pemanasan, dan pakai sepatu tenis, bukan sepatu empuk. Kalau raket, gak usah mahal dulu. Coba yang di bawah sejuta atau sewa saja,” sarannya.
Kini, lapangan padel di Balikpapan makin menjamur, dari yang Rp90 ribu sampai Rp250 ribu per jam. Fenomena ini, kata Oky, bukan cuma tren olahraga, tapi juga peluang bisnis. “Ekonomi lagi gak stabil, tapi orang Balikpapan malah buka lapangan padel. Keren sih,” ujarnya.
Lebih dari sekadar olahraga, padel jadi ajang relasi. “Main sambil ngobrol, kadang bahas bisnis juga,” katanya. Bonusnya? Dalam satu jam bisa bakar 300–450 kalori.
“Awalnya cuma coba-coba, sekarang malah kepikiran ikut turnamen. Ya siapa tahu, dari FOMO jadi pro,” tutup Oky.






