Balikpapan – Sebagai bagian dari komitmen program Tanggung Jawab Sosial & Lingkungan (TJSL) yang lebih baik dan tepat sasaran, Kilang Pertamina Refinery Unit (RU) V Balikpapan menggelar Focus Group Discussion (FGD) Penyusunan Rencana Strategis (Renstra) dan Rencana Kerja (Renja) Program TJSL Tahun 2026. Forum tersebut menjadi upaya perusahaan dalam menghadirkan program TJSL yang mampu menjawab permasalahan sosial dan lingkungan di masyarakat serta memberikan dampak dan manfaat yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Kegiatan berlangsung di Gedung Restorasi Banua Patra.
Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah, Penelitian dan Pengembangan (Bappeda Litbang) Kota Balikpapan, Murni menjelaskan konsep pembangunan tingkat Kelurahan yang telah dirumuskan.
“Pemerintah telah memiliki solusi kebijakan untuk mengatasi beberapa persoalan pembangunan di tingkat kota melalui konsep Kelurahan MADANI (Mandiri, Adaptif & Inovatif). Kelurahan MADANI tersebut memiliki fokus utama penyelesaian masalah yakni penurunan stunting, pengelolaan sampah serta pengembangan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) & Ekonomi Kreatif,” jelas Murni.
Acara dihadiri oleh Kepala Bappeda Litbang Kota Balikpapan sebagai narasumber utama. Kemudian dihadiri pula beberapa stakeholder yang sering terlibat dan menjadi mitra strategis kolaborasi dalam implementasi program. Turut hadir Badan Penganggulangan Bencana Daerah (BPBD), Dinas Lingkungan Hidup (DLH), Dinas Kesehatan, Dinas Ketenagakerjaan, Dinas Sosial, Dinas Pertanian, Dinas Koperasi UMKM dan Perindustrian, Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (DP3AKB), Lurah Ring 1, serta mitra dan kelompok binaan.
Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina RU V Balikpapan, Dodi Yapsenang menjelaskan bahwa untuk menjalankan program pemberdayaan butuh kerja sama antar pihak.
“Melalui kegiatan ini kami harap dapat menerima banyak masukan dan saran dari Bapak dan Ibu sekalian. Kami berharap program CSR kami dapat kita kawal bersama dan kita sukseskan melalui kerja sama multi pihak. Tentunya kami tidak dapat berjalan sendiri tanpa adanya bantuan dan dukungan dari berbagai Dinas dan Instansi terkait,” ungkap Dodi.
Dalam penyusunan Renstra dan Renja, perusahaan menjaring informasi untuk dapat merancang program yang tepat sasaran dan memberikan dampak secara nyata kepada masyarakat. Melalui sesi diskusi dan tanya jawab, partisipasi serta keaktifan peserta sangat bermanfaat sebagai landasan awal perumusan program.
Stakeholder lokal seperti kelurahan dan tokoh masyarakat juga memberikan masukan dan saran. Masukan diperlukan agar program dapat lebih sesuai dengan kebutuhan masyarakat serta sejalan dengan program–program pemerintah.
Sebagai bagian dari komitmen Pertamina RU V Balikpapan dalam mendukung pembangunan berkelanjutan, pengelolaan sampah menjadi salah satu program prioritas yang didorong melalui sinergi multi pihak. Perusahaan secara konsisten mengembangkan pendekatan pengelolaan sampah berbasis pemberdayaan masyarakat. Pengelolaan sampah tidak hanya berorientasi pada kebersihan lingkungan, tetapi juga menciptakan nilai tambah ekonomi dan sosial bagi masyarakat sekitar.
Berdasarkan Data dari DLH, Balikpapan Barat memiliki Pasar Pandan Sari yang menghasilkan sekitar 20 Ton sampah setiap harinya. Volume sampah tersebut dapat dikurangi dengan sistem dan cara pengelolaan sampah yang baik dan benar.
DLH Kota Balikpapan menjelaskan, pentingnya peran dan keberadaan dari Kelompok Bank Sampah seperti yang telah dibina oleh Pertamina RU V Balikpapan di Kelurahan Baru Tengah dan Kelurahan Muara Rapak.
Kepala Bidang Kebersihan DLH Kota Balikpapan, Dodi Yulianto menjelaskan pentingnya integrasi antara pengelolaan sampah dengan kelompok UMKM dan penurunan stunting. Menurutnya, kehadiran bank sampah induk memiliki peran strategis untuk mengurangi jumlah sampah dengan memilah dan mengelola sampah agar memiliki nilai lebih, sehingga hanya sisa sampah residu yang akan dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Manggar.
“Kita dapat membuat satu program yang jelas dan terintegrasi seperti Budidaya Maggot untuk mengolah sampah organik. Maggot tersebut dapat menjadi pakan ayam petelur yang nantinya dapat menjadi sumber makanan tambahan bagi bayi dan balita di Posyandu,” tutup Dodi.






