KPB Mengubah Hidup Asraf Menuju Masa Depan yang Lebih Baik

oplus_32

KPB Merubah Hidup Asraf, dari Pekerja borongan kini menjadi Security yang memiliki Pendapat Tetap

 

BALIKPAPAN — Bagi Asraf Umar, kesempatan mengikuti pelatihan satuan pengamanan atau satpam secara gratis bukan sekadar peluang menambah keterampilan. Kesempatan itu menjadi salah satu jalan menuju kehidupan yang lebih pasti, terutama setelah bertahun-tahun bekerja dengan penghasilan dan kepastian kerja yang belum sepenuhnya terjamin.

 

Istrinya menjadi salah satu orang yang paling merasakan perubahan tersebut. Ketika mengetahui suaminya berkesempatan mengikuti pelatihan hingga akhirnya bekerja sebagai petugas keamanan, kebahagiaan itu datang bersama air mata.

 

Perjuangan mencari pekerjaan yang lebih stabil perlahan menemukan titik terang.Asraf kini bekerja sebagai petugas keamanan di lingkungan Pertamina Patra Niaga di Balikpapan.

 

Sebelum mendapatkan pekerjaan tersebut, ia mengaku masih bekerja di lingkungan kilang, tetapi dengan sistem borongan. Pekerjaan itu memberinya penghasilan, namun belum menghadirkan kepastian seperti yang kini ia rasakan.

 

Kesempatan mengikuti pelatihan datang melalui informasi yang dibagikan di akun Instagram PT Kilang Pertamina Balikpapan (KPB). Asraf mengetahui adanya program pelatihan tersebut dari unggahan yang membuka kesempatan bagi calon peserta.

Ia kemudian mengikuti proses yang disyaratkan hingga dinyatakan dapat melanjutkan ke tahap berikutnya.

Bagi Asraf, informasi yang awalnya hanya ditemukan di media sosial itu akhirnya mengubah arah kehidupannya.

“Alhamdulillah, sekarang agak lebih membaik,” kata Asraf saat menceritakan perubahan yang ia rasakan setelah bekerja sebagai petugas keamanan.

 

 

Program yang diikuti Asraf merupakan pelatihan bagi 130 orang calon petugas keamanan. Seluruh peserta mengikuti pelatihan tanpa dipungut biaya.

Nilai bantuan tersebut tidak kecil. Berdasarkan estimasi biaya pelatihan mandiri sebesar Rp4,8 juta per orang, setiap peserta berkesempatan memperoleh pelatihan yang nilainya setara dengan biaya tersebut tanpa harus mengeluarkan uang pribadi.

 

Jika dihitung untuk 130 peserta, nilai keseluruhan pelatihan mencapai sekitar Rp624 juta. Yang di keluarkan oleh KPB untuk masyarakat Balikpapan agar bisa memiliki kesempatan untuk bekerja lebih baik lagi.

 

Angka itu merupakan estimasi berdasarkan biaya pelatihan mandiri per peserta. Meski demikian, perhitungan tersebut memberikan gambaran mengenai besarnya nilai manfaat yang diterima para peserta.

 

Bagi sebagian pencari kerja, biaya pelatihan dapat menjadi penghalang sebelum mereka sempat memasuki dunia kerja. Ada yang harus menabung berbulan-bulan, meminjam uang, atau mengurungkan niat karena kebutuhan rumah tangga lebih mendesak.

 

Program pelatihan gratis seperti yang diikuti Asraf dapat membantu mengurangi hambatan tersebut. Peserta memperoleh kesempatan meningkatkan kompetensi tanpa harus terlebih dahulu menyediakan biaya pelatihan secara mandiri.

Namun, pelatihan bukan berarti pekerjaan otomatis didapatkan. Calon peserta tetap harus memenuhi persyaratan, menjalani seleksi, dan mengikuti tahapan yang ditetapkan penyelenggara maupun calon pemberi kerja.

 

Pengalaman Asraf memperlihatkan bahwa kesempatan yang terbuka perlu disertai kesabaran dalam menjalani proses.

 

 

Pelatihan yang dijalani Asraf berlangsung sekitar satu pekan. Setelah itu, ia masih harus melewati sejumlah tahapan sebelum akhirnya bekerja sebagai petugas keamanan.

 

 

“Untuk proses tersebut memerlukan waktu hampir tiga bulan. Tahapannya mencakup wawancara, pemeriksaan atau penilaian sesuai prosedur seleksi, serta pemeriksaan kesehatan atau medical check-up (MCU),” kata dia.

 

Masa menunggu itu menjadi bagian dari perjalanan yang tidak selalu terlihat ketika orang hanya membaca pengumuman pelatihan di media sosial.

 

Di balik satu kesempatan, terdapat proses yang harus dijalani. Peserta perlu mempersiapkan diri, memenuhi persyaratan, dan menunggu keputusan. Bagi pencari kerja yang sedang menghadapi tekanan ekonomi, waktu tunggu semacam itu tentu tidak selalu mudah.

 

“Saat ini saya telah menjalani pekerjaannya sebagai petugas keamanan selama sekitar 11 bulan,” ucapnya berdasarkan keterangannya saat wawancara, Jumat (22/10/2026) di warung kopi Namin Kebun Sayur Balikpapan .

 

Perubahan paling berarti baginya bukan hanya kesempatan mengenakan seragam dan menjalankan tugas pengamanan. Ia juga merasakan adanya kejelasan dalam sejumlah aspek pekerjaan, mulai dari gaji yang dibayarkan tepat waktu hingga perlindungan sosial dan ketentuan kontrak kerja.

 

“Alhamdulillah saya mendapatkan jaminan BPJS dan Jaminan Hari Tua (JHT). Kepastian ini menjadi penting bagi keluarga kecil saya istri dan dua anak saya” jelasnya.

 

 

Di tengah bertambahnya kebutuhan rumah tangga, pekerjaan dengan penghasilan yang lebih teratur memberikan ruang bagi keluarga untuk merencanakan masa depan. Biaya kebutuhan bayi, kebutuhan sehari-hari, dan persiapan menghadapi berbagai kemungkinan tidak lagi sekadar perkara yang harus dipikirkan dari satu hari ke hari berikutnya.

 

Bagi sebuah keluarga muda, kepastian kerja dapat menjadi fondasi untuk melangkah lebih jauh. Pekerjaan Asraf saat ini menuntut kewaspadaan. Ia bertugas di kawasan rumah dinas Pertamina, dengan tanggung jawab memantau kondisi lingkungan dan memastikan situasi tetap aman.

 

Salah satu tugas rutin yang dilakukannya adalah berpatroli mengelilingi area penugasan. Petugas memeriksa kondisi sekitar, memantau aktivitas yang mencurigakan, dan melaporkan temuan kepada atasan atau petugas terkait.

Dalam pekerjaan pengamanan, kewaspadaan tidak selalu berarti harus segera bertindak ketika melihat sesuatu yang tidak biasa. Petugas juga perlu mengamati keadaan, berkomunikasi dengan rekan, dan memastikan tindakan yang diambil sesuai prosedur.

 

Asraf menceritakan pengalamannya saat bertugas malam dan mendapati aktivitas sejumlah orang yang dinilai mencurigakan di sekitar kawasan workshop. Peristiwa itu berkaitan dengan dugaan upaya pencurian material, termasuk kabel tembaga.

Menurut penuturannya, para petugas terlebih dahulu memantau pergerakan orang-orang tersebut. Ketika situasi dinilai memerlukan bantuan, informasi disampaikan melalui grup komunikasi agar rekan lain dapat merespons.

Asraf kemudian membantu bersama seorang rekannya. Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa pekerjaan petugas keamanan tidak hanya mengandalkan keberanian fisik. Kemampuan mengamati, berkomunikasi, bekerja sama, serta memahami batas kewenangan juga menjadi bagian penting dari tugas sehari-hari.

 

Dalam pelaksanaan pengamanan, penanganan orang yang diduga melakukan pelanggaran harus dilakukan sesuai prosedur dan ketentuan hukum. Petugas tidak boleh bertindak sewenang-wenang atau menjadikan dugaan sebagai alasan untuk melakukan kekerasan.

 

Asraf memahami bahwa tugas petugas keamanan memiliki batas. “Setelah tindakan awal dilakukan sesuai kewenangan dan prosedur, penanganan selanjutnya perlu melibatkan pihak yang berwenang waktu itu,” ungkap Asraf.

 

Prinsip ini penting untuk diketahui masyarakat. Keamanan bukan semata-mata soal menangkap orang yang dicurigai, melainkan juga memastikan setiap tindakan dilakukan secara bertanggung jawab, proporsional, dan menghormati hukum.

 

 

 

Selama pelatihan, peserta memperoleh pembekalan mengenai keterampilan dasar yang diperlukan dalam pekerjaan pengamanan. Asraf menyebut adanya materi penggunaan tongkat dan borgol, di samping pengetahuan lain yang berkaitan dengan tugas seorang petugas keamanan.

 

Keterampilan tersebut tidak semestinya dipahami hanya sebagai kemampuan menggunakan peralatan. Seorang petugas keamanan juga perlu memahami kapan peralatan boleh digunakan, bagaimana menghindari tindakan berlebihan, serta bagaimana menghadapi situasi dengan mengutamakan keselamatan.

 

Disiplin, komunikasi, pengamatan, dan kepatuhan terhadap prosedur merupakan unsur penting dalam profesi tersebut.

Pelatihan menjadi pintu masuk untuk membangun kemampuan itu. Adapun penerapannya di lapangan membutuhkan tanggung jawab dan kedisiplinan yang terus dijaga.

 

Bagi peserta yang sebelumnya belum memiliki akses terhadap pelatihan formal, pembekalan semacam ini dapat menjadi modal untuk memasuki bidang pekerjaan yang memiliki persyaratan kompetensi tertentu.

 

Meski demikian, setiap peserta tetap perlu memastikan bahwa pelatihan, sertifikasi, dan persyaratan profesi yang ditempuh sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

 

 

Setelah hampir setahun bekerja, Asraf belum berhenti berharap. Ia ingin memiliki kesempatan untuk berkembang dan memperoleh tanggung jawab yang lebih besar. Ia berharap suatu saat dapat naik jabatan apabila memenuhi persyaratan dan mendapat kesempatan.

 

Harapan itu terdengar sederhana, tetapi menyimpan arti penting bagi seseorang yang sebelumnya bekerja dengan sistem borongan. Pekerjaan yang lebih stabil bukan hanya tentang keadaan hari ini, melainkan juga tentang kemungkinan membangun masa depan melalui peningkatan kemampuan dan pengalaman.

Asraf kini memiliki alasan lebih kuat untuk terus belajar. Setiap giliran kerja, patroli, dan pengalaman menghadapi persoalan keamanan menjadi bagian dari proses membentuk dirinya sebagai petugas yang lebih profesional.

 

Perjalanan tersebut juga menunjukkan bahwa manfaat sebuah program pelatihan tidak selalu berhenti ketika kegiatan resmi selesai. Dampaknya dapat berlanjut ketika peserta menerapkan pengetahuan yang diperoleh, mendapatkan kesempatan kerja, dan menggunakannya untuk menopang kehidupan keluarga.

 

Bagi perusahaan, program pelatihan masyarakat dapat menjadi salah satu bentuk kontribusi dalam memperluas akses terhadap keterampilan kerja. Namun, keberhasilannya tidak cukup diukur dari jumlah orang yang hadir di ruang pelatihan. Perlu pula dilihat bagaimana kompetensi peserta berkembang, apakah mereka mendapatkan peluang kerja yang layak, dan bagaimana manfaatnya bertahan dalam jangka panjang.

 

Dalam kehidupan Asraf, cerita tentang pelatihan gratis itu berlanjut hingga ke rumah, kepada seorang istri yang terus berdoa untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik dari pekerja pertamanya.

 

 

Asraf tidak mengatakan bahwa semua persoalan hidupnya telah selesai. Ia masih bekerja, menjalani tanggung jawab, dan berharap mendapatkan kesempatan yang lebih baik. Namun, pekerjaan yang kini dijalaninya telah memberikan sesuatu yang dahulu ia cari. Yakni penghasilan yang lebih teratur, perlindungan sosial, serta harapan untuk tumbuh bersama keluarganya.

 

Kisah ini mengingatkan bahwa kesempatan kerja tidak selalu dimulai dari sesuatu yang besar. Terkadang, ia bermula dari sebuah informasi yang dibagikan di media sosial, pelatihan yang bisa diikuti tanpa biaya, dan keberanian seseorang untuk menjalani setiap tahap seleksi.

Bagi 130 peserta program tersebut, pelatihan gratis membuka kesempatan untuk memperoleh bekal baru. Bagi Asraf, kesempatan itu telah menjadi bagian penting dari perjalanan hidupnya, dari pekerjaan borongan menuju pekerjaan yang dirasakannya lebih pasti, dari penantian menuju harapan, dan dari sebuah pengumuman di Instagram menuju tanggung jawab baru sebagai seorang ayah untuk kedua anaknya.(Oky)

Related posts